majelis fathul hidayah Forum Index majelis fathul hidayah
Selamat Datang Di forum Diskusi Majelis Fathul Hidayah
 
 Majelis Fathul Hidayah 
 FAQFAQ   SearchSearch   MemberlistMemberlist   UsergroupsUsergroups   RegisterRegister 
 ProfileProfile   Log in to check your private messagesLog in to check your private messages   Log inLog in 

Macam-macam sholat sunnah Rasulullah Salallahu wa taala

 
Post new topic   Reply to topic    majelis fathul hidayah Forum Index -> Ilmu Pengetahuan
View previous topic :: View next topic  
Author Message
ibnusuja



Joined: 07 Oct 2017
Posts: 1

PostPosted: Fri Jan 26, 2018 6:50 am    Post subject: Macam-macam sholat sunnah Rasulullah Salallahu wa taala Reply with quote

Jenis shalat sunah yakni :
1. Shalat Wudhu, Merupakan sholat sunnah dua rakaat yang dapat dilakukan setiap habis wudhu.
2. Sholat Tahiyatul Masjid, yaitu sholat sunnah dua rakaat yang dilaksanakan ketika masuk dalam surau, sebelum duduk untuk menghormati mesjid. Rasulullah berkata
‘Apabila seseorang diantara kamu masuk masjid, maka janganlah hendak duduk sebelum shalat dua rakaat lebih dahulu’ (H.R. Bukhari dan Muslim).

3. Shalat Dhuha. Yaitu shalat sunnah yang dikerjakan saat sang surya baru muncul. Jumlah rakaatnya paling sedikit 2 dan maksimal 12.
4. Shalat Rawatib. Ialah shalat sunnah yang dijalankan membersamai sholat fardhu.
a. Qabliyah, yakni sholat sunnah rawatib yang dijalankan sebelum sholat fardu. Pelaksanaannya : 2 rakaat sebelum shalat subuh, 2 rakaat sebelum sholat Dzuhur, 2 atau empat rakaat sebelum shalat Ashar, dan 2 rakaat sebelum shalat Isya’.

b. Ba’diyyah, yaitu shalat sunnah rawatib yang dilaksanakan sesudah sholat fardhu. Waktunya : 2 atau empat rakaat setelah shalat Dzuhur, dua rakaat setelah shalat Magrib dan 2 rakaat setelah shalat Isya.
5. Sholat Tahajud, ialah sholat sunnah pada waktu malam. Sebaiknya dilaksanakan lewat tengah malam. Dan sesudah tidur. Paling sedikit dua rakaat maksimal sebatas kemampuan kita. Keutamaan sholat ini, digambarkan dalam Al-Qur’an. ‘Dan pada sebagian malam hari bershalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ketempat yang terpuji’(Q.S. Al Isra : 79 ). Baca juga tata cara sholat tahajud

6. Shalat Istikharah, yaitu shalat sunnah 2 rakaat guna minta pilihan yang bagus, apabila kita menghadapi dua opsi, atau bimbang dalam mengambil keputusan. Sebaiknya dilaksanakan pada 2/3 malam terakhir.
7. Shalat Keinginan, adala shalat sunnah dua rakaat guna memohon supaya hajat kamu dituruti ataupun dibolehkan oleh Allah SWT. Sedikitnya II rakaat maksimal 12 rakaat beserta salam saban dua rakaat.
8. Shalat Mutlaq, ialah shalat sunnah tanpa tujuan nan tiada ditetapkan masanya, jua tak dibatasi ukuran bilangannya. ‘Shalat itu suatu masalah yang bagus, meruah atau secuil’ (Al Hadis).
9. Shalat Ampunan, ialah shalat sunnat nan dilakukan setelah sadar berbuat dosa kepada Allah SWT, supaya mendapat ampunan-Nya.
10. Shalat Tasbih, merupakan shalat sunnah yang dianjurkan dikerjakan tiap malam, jika tak mampu seminggu sekali, atau paling tidak ketika hidup 1 kali. Shalat ini sebanyak empat rakaat, beserta ketentuan jikalau dilakukan pada terang hari cukup beserta satu usapan, apabila dilakukan di petang hari dengan 2 usapan. Cara melakukannya
a. Sesudah membaca surat Al Fatehah mengeja tasbih 15 kali.
b. Ketika ruku’, sesudah iqra do’a ruku membaca tasbih sepuluh kali
c. Ketika ‘itidal, usai baca do’a ‘itidal mengeja tasbih 10 kali
d. Pas sujud, usai membaca doa sujud membaca tasbih sepuluh X
e. sesudah mengeja do’a duduk antara 2 sujud mengaji tasbih 10 kali.
f. sesudah iqra doa sujud ke 2 baca tasbih 10 x.
nilai kesemuanya tasbih yang dibaca di setiap rakaatnya berjumlah tujupuluh lima x. Lafadz bacaan tasbih nan dimaksud adalah sebagai berikut:
‘Subhanallah wal hamdu lillahi walaa ilaaha illallahu wallahu akbar’ artinya : ‘Maha suci Allah yang Maha Esa. Segala puji bagi Akkah, Dzat yang Maha Agung’.
11. Shalat Tarawih, yaitu shalat sunnah seusai shalat Isya’ di bulan Ramadhan. Tentang nilai rakaatnya dituliskan di dalam hadits. ‘Yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, baik pada bulan ramadhan atau lainnya tak lebih dari sebelas rakaat’ (H.R. Bukhari). Dari Jabir ‘Sesungguhnya Nabi saw telah sholat bersama-sama mereka 8 rakaat, kemudian ia shalat witir.’ (H.R. Ibnu Hiban)
Di zaman khalifah Umar bin Khathtab, sholat tarawih dilakukan sebanyak dua puluh rakaat nan hal ini tidak dibantah bagi kumpulan sahabat masyhur dan terkemuka. Kemudian ketika zaman Umar bin Abdul Aziz jumlahnya dijadikan tigapuluh enam rakaat. Dengan demikian jumlah rakaatnya tak ditetapkan selaku yakin dalam syara’, oleh karena itu tergantung dari kekuatan kita masing-masing, asal tidak kurang dari 8 rakaat.
12. Sholat Witir, yaitu adalah sholat sunnat [mu’akad (dianjurkan) yang disarankan (muakkad) yang sering umumnya umumnya dilakukan bersama dengan sholat tarawih, Bilangan sholat witir 1, 3, 5, 7 sampai 11 rakaat. Dari Abu Aiyub, berkata Rasulullah ‘Witir itu hak, karenanya siapa yang menyukai melakukan lima, kerjakanlah. Siapa yang suka melaksanakan tiga, kerjakanlah. Dan siapa yang suka satu karenanya kerjakanlah’(H.R. Abu Daud dan Nasai). Dari Aisyah : ‘Adalah nabi saw. Sholat sebelas rakaat diantara sholat isya’ dan terbit fajar. Beliau memberi salam setiap dua rakaatdan yang penghabisan satu rakaat’ (H.R. Bukhari dan Muslim)
13. Shalat Hari Raya, merupakan shalat Idul Fitri pada 1 Syawal dan Idul Adha pada 10 Dzulhijah. Peraturannya sunat Mu’akad (disarankan).’Sebenarnya kami telah memberi engkau (yaa Muhammad) akan kebajikan yang banyak, karena itu shalatlah engkau dan berqurbanlah sebab Tuhanmu ‘ pada Idul Adha – ‘(Q.S. Al Kautsar.1-2) Dari Ibnu Umar ‘Rasulullah, Abu Bakar, Umar pernah melaksanakan sholat pada dua hari raya sebelum berkhutbah.’(H.R. Jama’ah).
Waktu shalat hari raya yakni setelah terbit sang surya hingga condongnya matahari. Prasyarat, rukun dan sunnatnya sama seperti sholat yang lainnya. Hanya ditambah beberapa sunnat sebagai berikut:
a. Berjamaah
b. Takbir 7 kali di rakaat pertama, dan lima kali di rakat ke-2
c. Mengangkat tangan sejajar bahu pada tiap takbir.
d. Sesudah takbir yang ke-2 hingga takbir yang paling akhir membaca tasbih.
e. Membaca surat Qaf di rakaat pertama dan surat Al Qomar di rakaat kedua.
Atau surat A’la dirakat pertama serta surat Al Ghasiyah di rakaat kedua.
f. Imam menyaringkan bacaannya.
g. Khutbah 2 kali setelah shalat sebagaimana khutbah jum’at
h. Pada khutbah Idul Fitri menyampaikan seputar zakat fitrah dan di Idul Adha perihal peraturan-aturan Qurban.
i. Mandi, bersolek, menerapkan pakaian sebaik-bagusnya.
j. Makan lebih-lebih dahulu pada shalat Idul Fitri pada Shalat Idul Adha
sebaliknya.
14. Shalat Khusuf, yaitu sholat sunat ketika terjadi gerhana bulan maupun matahari. Minimal 2 rakaat. Caranya mengerjakannya:
a. Shalat dua rakaat dengan empat kali ruku’ yaitu pada rakaat pertama, setelah ruku’ dan I’tidal membaca fatihah lagi kemudian ruku’ dan I’tidal kembali sesudah itu sujud sebagaimana umumnya. Demikian juga saat rakaat kedua.
b. Disunatkan membaca surat yang panjang, sedang membacanya pada waktu gerhana bulan harus nyaring meski pada gerhana sang surya sebaliknya.
15. Shalat Istiqa’, ialah shalat sunat yang diamalkan untuk memohon diturunkan hujan kepada Allah SWT.
Ketentuan mengerjakana Shalat Istisqa :
a. Tiga hari sebelum itu agar ulama menyerukan umatnya memohon ampun dengan berpuasa dan meninggalkan segala kedzaliman serta memerintahkan beramal shaleh. Karena menumpuknya dosa itu menyebabkan hilangnya rejeki dan datang murka Allah. ‘Apabila kami mau mengadzab suatu negeri, maka lebih dulu kami membuat banyak orang-orang yang fasik, sebab kefasikannyalah mereka disiksa, lalu kami robohkan (hancurkan) negeri mereka sehancur-hancurnya’(Q.S. Al Isra’ : 16).
b. Pada hari keempat seluruh penduduk termasuk yang lemah dianjurkan pergi kelapangan dengan pakaian biasa dan tanpa menggunakan wangi-wangian untuk shalat Istisqa’
c. Sesudah shalat diadakan khutbah dua kali. Pada khutbah pertama hendaknya baca istigfar 9 X dan untuk khutbah kedua 7 X.
Pelaksanaan khutbah istisqa beda dengan khutbah lainnya, yaitu :
a. Khatib disunatkan pakai selendang.
b. Isi khutbah menyeru banyak beristigfar, dan yakin bahwa Allah SWT akan mengabulkan permintaan mereka.
c. Saat berdo’a baiknya mengangkat tangan setinggi-tingginya.
Saat berdo’a disaat khutbah kedua, khatib baiknya menghadap kiblat membelakang makmumnya.
Sumber: https://ibnuasmara.com/tata-cara-sholat-tahajud/
Back to top
View user's profile Send private message
Display posts from previous:   
Post new topic   Reply to topic    majelis fathul hidayah Forum Index -> Ilmu Pengetahuan All times are GMT
Page 1 of 1

 
Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum
You cannot attach files in this forum
You cannot download files in this forum


Powered by phpBB © 2001, 2005 phpBB Group

Hosted by ForumCity